Selasa, 04 September 2012

Hijab Itu, Pengikat Saya dengan Allah


Bismillahirrahmanirrahim

Kita sama saja, sampai Hijab yang membedakan kita. Bukan saya mengikrarkan kesucian diri, dengan Hijab yang melekat menutupi aurat saya, bukan. Namun ikrar ini adalah usaha saya dalam menjaga sifat, sikap dan laku diri agar tetap dalam batas yang syar'i. menjaga diri, dari membuat Allah murka, atau paling tidak yang membuat saya sangsi untuk melakukan hal-hal tercela. Namun lagi-lagi, saya yang tidak pernah luput dari salah dengan segala kelemahannya.

Kita dahulu berbeda, sampai Hijab yang menyatukan kita, bertukar kisah bahagia saat diri pertama kali memutuskan untuk berhijab, Allahu Akbar. Menangis tersedu-sedu mengingat bagaimana dahulu kita begitu jauh dari-Nya, mengelak dari hidayah-Nya, mengurung diri dari cahaya-Nya. Nastaghfirullah…. Bukan tanpa usaha kita berhijab, bukan tanpa perlawanan, bahkan dengan diri sendiri. Dengan air mata, hati tunduk berucap, "Allah, kini kudengar seruan-Mu, bantulah, kuatkanlah aku!"

Hijab yang melekat ini, akan menjadi saksi ukhuwah di antara kita juga, bagaimana kita saling menguatkan, bahkan rela diri tersakiti demi keistiqomahan jiwa yang lain.
Saya hanya ingin ta'at, kepada Allah. kepada Ia yang selalu mencurahkan nikmatnya untuk saya, tanpa bosan! Sekalipun berulang kali Allah, saya kecewakan.
Allah, saksikanlah bahwa Hijab ini adalah pengikat, pengikat kuat antara jiwa yang lemah ini, dengan Engkau yang maha kuat.

Izinkan kami menjadikan Hijab sebagai alat meng-iba kepada-Mu, karena takut akan adzab-Mu.
Kabulkanlah Yaa Allah, dengan Hijab ini kelak kami berkumpul di surga.

Allah, izinkanlah kami untuk terus memetik hidayah-Mu yang agung, hingga tangan-tangan kami mencapai surga atas keridhaan-Mu.

Kami yang fakir, pantaskah meminta kepada-Mu?

Yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa 'alaa diinik….
Duhai Allah yang maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati-hati kami dalam agama-Mu. Aamiin.

4 September 2012, diperingati sebagai Hari Hijab Internasional. 

Perjalanan Sang Penutup Kepala


Bismillahirrahmanirrahim,

Terlahir dari rahim seorang muslimah adalah suatu anugerah yang tak ternilai harganya. Dibesarkan oleh seorang muslim yang taat dan paham agama adalah hadiah terindah dari Allah yang pernah saya dapatkan, karena bermula dari mereka, saya mengenal Allah, mengenal kekasih-Nya yang menyiarkan agama-Nya yang begitu membanggakan. Ya, saya bangga menjadi seorang muslimah.
Tak banyak mengingat memang, kalau bukan karena ada dokumentasi foto saya dulu, bahwa saya sudah berjilbab dari sejak kecil. Ya, Ayah dan Bunda yang mengenakannya pada saya.  Lupa, bagaimana rasanya berkurudung pertama kalinya.

Saya ingat tahun 1999 saat saya duduk di bangku kelas 1 SD, Ummul Quro Bogor. Begitu bahagia rasanya, mengenakan seragam baru, rok merah itu, rasanya seperti jadi orang dewasa! Pulang sekolah, saya main keluar rumah, dengan kerudung, baju main tangan pendek, dan rok  merah seragam yang tidak ingin saya ganti. Untuk menunjukkan pada dunia (orang di kampung maksudnya) bahwa saya sudah SD!
Pada masa-masa ini jugalah, saya merasa belum mau mengenakan kerudung seterusnya. Saya hanya mau saat berangkat ke sekolah saja, atau saat pergi bersama keluarga. Kalau main ke luar rumah bersama kawan yang lain saya inginnya tanpa kerudung. "Ahmad, Ahmad mau kemana itu?" begitulah Ayah menggoda saya, saat melihat saya mengendap-endap hendak pergi bermain tanpa kerudung. "Ah Ayaaah aku Isma.." protes saya sambil menekuk alis dalam-dalam. "Oooh, Isma! Atuh Ism amah kalau main keluar sekarang pakai kerudung…." Balas Ayah menggoda saya. Akhirnya mau tidak mau karena saya tidak mau dipanggil "Ahmad" atau "Adam" alias disamakan dengan "Laki-laki" karena saya tidak mengenakan kerudung, akhirnya saya kembali ke dalam, menyambar kerudung dan langsung berlari ke TKP untuk bermain bersama yang lain.
Tiba di kelas 6 SD. Mulai asik dengan kerudungnya sendiri. mulai mengerti model yang cantik dan cocok untuk saya. Sampai sempat diakhir kelas 6 SD, saya pernah mengenakan kerudung segi empat atau peniti bersama teman-teman saya. Wow, rasanya semakin dewasa! sampai saya sadari butuh waktu 30 menit untuk mengenakannya!

Beda saya, beda kakak saya. Saya yang merasa dewasa dengan kerudung segi empat, kakak saya menyatakan ke-anti-annya terhadap jenis kerudung itu. pasalnya, sering membuat ia terlambat ke sekolah walau jarak sekolah dan rumah hanya sebatas satu kali jungkir balik saja. Awalnya di SMPIT Ummul Quro (tempat kakak saya belajar) tidak diwajibkan mengenakan kerudung segi empat, tapi mulai dari angkatan setelah kakak saya, kemudian saya, akhirnya diwajibkan. Dari sanalah bermula kebiasaan saya mengenakan kerudung segi empat.
Menyediakan waktu lebih banyak untuk bersiap? Pasti! Terkadang setengah jam lebih saya harus berdiri mematut diri di depan kaca. Sulit sekali rapinya kerudung segi empat. Cara saya mengenakan kerudung, tidak ada manis-manisnya sama sekali. Barulah saya paham, kenapa dahulu kakak saya memproklamasikan ke-anti-annya terhadap jenis kerudung itu. namun saya sadari, memang semuanya itu harus bertahap. Sampai akhirnya, saya mulai bersahabat dengan kerudung-kerudung itu, mereka juga sudah tidak terlalu kaku lagi, sebab hampir 1 minggu 2 kali mereka berhadapan dengan mesin cuci. Mengoleksi pin-pin lucu dan keren-keren, sebagai aksi solidaritas juga terhadap Palestina misalnya, membeli pin-pin bergambar "Save Palestine" dan lain sebagainya.

Tanpa saya sadari, kerudung yang awalnya hanya menutupi dada itu akhirnya semakin lebar. Memang tanpa maksud, bahkan yang menjadi motivasinya saja kawan saya yang ketika itu bilang "Aku minimal kerudung di pesantren satu jengkal dari lengan tangan atas." Dan melihat guru-guru saya di SMPIT Ummul Quro pun terlihat begitu anggun dengan kerudung-kerudung lebarnya. Begitupun rok. Dulu saya enggan mengenakan rok, saya pikir akan terlihat lebih gagah kalau saya mengenakan celana. Toh bajunya panjang selutut. Namun seiring berkembangnya jalan pikir saya, saya paham, akhwat itu anggun, namun tangguh. Dengan rok sang akhwat akan terlihat lebih anggun, dan mendobelnya dengan celana agar lebih aman. Itu terjadi saat saya duduk di bangku kelas 2 SMP (kalau tidak salah ingat).

Takdirpun menggiring saya ke tempat yang amat berbeda, sangat heterogen, SMA Negeri 2 Cibinong. Kalau bukan guru SMP saya menyemangati saya dengan iming-iming pahala di 'ladang pahala yang luas' mungkin status saya kini sebagai tamatan pesantren. Menangis pun pernah, saking saya tidak kuat menimba ilmu di sekolah umum. Satu, karena mereka semua cerdas dan rajin-rajin belajar, akhirnya orang yang mengandalkan mood seperti saya ini terlempar, dua, karena lingkungan yang amat berbeda, sekalipun, percayalah SMA Negeri 2 Cibinong, mengadakan tes tahsin untuk ujian masuknya, mewajibkan siswinya berkerudung di area sekolah, ada mentoring setiap hari sabtu, ROHIS menjadi ekstrakulikuler wajib bagi siswanya yang muslim, tutor sebaya setiap Jum'at selalu rutin dilakukan, diabsen, dan masih banyak lagi namun entah mengapa saya merasa bukan sekolah itu tempat saya, bukan! Tapi pada akhirnya, saya menjadi salah satu alumni SMAN 2 Cibinong, dan saya bangga dengan itu, wajar! Saya sadari, dulu saat saya merasa tidak kerasan sekolah di sana, itu semua lebih kepada karena saya ingin juga seperti teman-teman saya yang lain di pesantren, menghafal Al-qur'an belajar ilmu Islam dan lain sebagainya. Ini murni kesalahan saya, yang tidak bisa membagi waktu, memanfaatkannya dan terlalu banyak berpikir mau ini dan itu, sedang tindak saya hanya sedikit, sampai akhirnya menyesal waktu berlalu begitu saja, tanpa kemajuan yang baik dari hafalan, dan pemahaman Islam saya. Astaghfirullah.

Di sekolah itu juga, saya justru belajar makna beriman, dengan mempertahakan apa yang benar menurut agama saya, sekalipun itu harus betentangan dengan yang lain, makna berihsan, dengan tetap menjaga diri dari apa-apa yang Allah larang, sekalipun harus sendirian memerankannya, yakin, Allah melihat saya! Makna berislam, seperti menghirup udara yang amat segar, duhai Allah, indah sekali nikmat-Mu ini, nikmat Islam, yang belum tentu dirasakan oleh kawan-kawan yang lain, makna berhijab, yang justru saya dapatkan dari sahabat-sahabat saya yang baru mendapatkan hidayah, bagaimana berhijab itu menjadi hubungan, antara kita, sesama dan Allah.
Kepada yang telah menguatkan langkah kami, membantu kami dalam belajar agama Islam, Guru kami bersama, Pembina ROHIS di tahun saya, yang kami hormati dan kami banggakan, Abi... dan Guru-guru yang lain, atas doa, semangat dan dukungannya :) Jazaakumullah khairan katsir....

Pemenang hadiah Nobel perdamaian "Tawakkul Karman," 'The mother of Yemen's revolution,' ketika ditanya tentang hijabnya oleh wartawan dan bagaimana hal itu tak sesuai dengan level pendidikan dan intelegensinya, menjawab:

"Manusia pada awalnya hampir telanjang, dan ketika akalnya bertambah ia pun mulai memakai pakaian. Saya sekarang dan apa yang saya pakai ini mewakili level tertinggi dari pemikiran dan peradaban yang telah dicapai umat manusia, dan hal ini bukan kemunduran. Membuka pakaian itulah yang merupakan kemunduran ke jaman kuno."



Sabtu, 01 September 2012

Nawwir quluubana, Ya Rabb!


Bismillahirrahmanirrahim

Bukan dengan pedang lalu berperang menjadi jihad yang paling berang, bukan. Namun dengan kecerdasan, keikhlasan, kesabaran dan ilmu yang dimiliki mengendalikan diri mematikan titik nafsu  yang menjerat. Dengan itu. menjadi jihad yang paling berat, jihad yang paling sulit, jihad yang paling ingin ditinggalkan, jihad yang membuat manusia-manusia payah mencari pembenaran atas lakunya, bukan kebeneran yang sesungguhnya. Lucu bukan? Pahamilah, tak akan pernah kita Berjaya jika begitu caranya. Tak usah iri dengan orang yang setiap hari gembira, ceria. Kita pun bisa seperti itu, tanpa syarat sulit lagi banyak. Cukup dengan, ikuti hawa nafsu kita saja, ceria, bahagia, gemberi, senang-senang adalah sebuah keniscayaan. Namun begitukah ciri ummat Rasulullah SAW? Begitukah laku seseorang yang merindu surga?

Tentu bukan, kita terseok menjaga diri dari hawa nafsu yang begitu memberatkan kita, tak mengapa, toh tertatihnya kita menghantarkan kita pada surga-Nya, apa yang kita ragukan? Resapilah, mengapa jihad ini menjadi jihad yang paling besar, salah-salah kita bisa membunuh diri kita sendiri. namun jihad kita ini dengan kecerdasan, dengan ilmu, dengan keikhlasan! Kita pasti lebih sering menalan pil pahit hidup yang banyak cobaan, biarkan teman... Hawa nafsu tak akan membawa kesengsaraan itu berarti kita sedang belajar untuk hidup jauh dari hawa nafsu yang menjerusmuskan diri sendiri pada jurang kehinaan, biar berat bersabarlah!

Mencari cara jitu mengendalikan diri, emosi, hasrat, prasangka… sulit! Ya, amatlah sulit, tanpa keikhlasan, tanpa kesabaran, tanpa ilmu. Ikhlaskan melihat teman kita berbahagia, bersabarlah biarlah Allah yang membahagiakan kita dengan sabar dan ikhlas kita. Menjaga diri dari emosional dan hasrat yang tak terkendali, bersabarlah sebelum kelak kita menyesal dan sulit mengembalikannya kepada keadaan 'baik-baik' saja. Allah maha pemaaf, kita beristighfar Allah langsung mengampuni. Namun bagaimana dengan hati manusia yang tersakiti? Ha, itulah dia. Manusia dengan segala keangkuhannya.

Jangan banyak bergerak tanpa tujuan yang jelas teman, air saja cerdas Allah ajarkan bergerak dengan arah. Menabrak batu, mengikisnya lepas, mengalir lagi sampai ke muaranya. Air teman, air! dengan arah, dengan maksud, membawa gundukan sampah dari kali-kali di sekitar. Bergeraklah, saat memang kita bisa menebar manfaat dengan gerak kita. Inti kerja adalah berpikir terlebih dahulu. Cukupkah dengan berpikir saja? Cukup, dengan syarat kita yakin Allah mengilhami kita caranya, jalannya. Kalau begitu, berusahalah agar Allah senantiasa memberikan kita petunjuk-Nya. Bawalah segenggam manfaat, bergeraklah!

Entahlah teman, rasanya hidup saya masih belum bisa menghamba secara baik kepada Allah. baik saja belum, apalagi benar? Ihdinashshiraathal mustaqiim, yaa Rabb! Aamiin….
Minggu, 26 Agustus 2012

Dahulu Kau Siapa?


Bismillahirrahmanirrahim

Hanya agar engkau tahu kabar mereka yang di sana. Cukup dengan bertanya, pun teknologi sudah canggihnya tak menunggu jam, apalagi hari kau kirim akan ia langsung terima saat itu juga. Sama sekali tak ada sulitnya menanyakan kabar dan keadaan. Engkau terlalu sibuk dengan aktivitasmu sendiri, yang sebenarnya kau saja bingung bukan dengan apa yang kau kerjakan? Kerjamu tak seberat orang lain di sana, apa yang membuat menjadi sedemikian sombong? Segala kehendak, mimpi dan cita-cita sudah tergapaikah, maka kau cepat berpuas diri?

Lupa dahulu kau siapa? Tanpa pengajaran dari orang-orang yang rahmat Allah selalu membersamai mereka, kau bukan siapa-siapa. belajar dari nol sekali hingga kau tahu walau hanya sedikit saja.

Apakah kau lupa bagaimana rasanya menjadi orang bodoh yang tak mengerti apa-apa. Lupakah? Hingga kau pun lupa ada orang yang bernasib sama, kau abaikan begitu saja. Sayangnya, surga bukan untuk kau kuasai sendiri.

Silakan kau berjalan sejauh-jauhnya, rasakan saja bahwa dunia hanya milikmu sendiri.

Sampai pada masanya, saat kau merasa dzalim telah meninggalkan orang-orang jauh di belakang, orang-orang yang nasibnya tak sebaik dirimu mendapatkan pendidikan yang baik.
Sudahlah, penyesalan itu selalu datang di akhir, maka tunggu akhirannya kelak kau akan menyesal.
Jumat, 24 Agustus 2012

Ishlah dengan Diri


Kenapa hati mudah tersakiti, padahal enggan menangis dan bermusuhan lagi. Kenapa? Jangan banyak berpikir, namun bekerja dan bergeraklah. Jangan banyak bicara namun bekerja dan bergeraklah atau menyampaikan kebaikan. Hidup ini terlalu indah untuk dihiasi oleh gelut hati ke hati kita dan mereka. Terlalu panjang untuk dihabiskan memikirkan cara yang baik agar dimaafkan.

Sakit hati, disakiti atau tersakiti. Kuncinya 3, ikhlas-mengikhlaskan, maaf-memaafkan, kemudian perbaiki diri. Aku memilih untuk lebih banyak diam ketimbang bergaul ke sana kemari. Salah-salah kau tersakiti. Kau ucap aku pilih-pilih kawan? Ya katakanlah begitu. Pilih-pilih ladang, mencari yang paling mudah untuk digarap? Ya katakanlah begitu, daripada lidah ini, atau tangan ini, atau bahkan tatapan mata ini menyakitimu dalam-dalam, hingga kau pun tak kuasa untuk memaafkan. Inilah kapasitasku, yang belum sehebat mereka. Dan inilah proses, yang hendaknya aku hargai, aku cintai. Ishlah.

Miris menyaksikan diri, duhai Allah, bolehkah menjadi pelipur dosa?

Sabtu, 18 Agustus 2012

Kado Lebaran Untuk Muslim Rusia


Bagi penduduk muslim Rusia ada yang berbeda di hari raya Idul Fitri tahun ini. Setelah 1 bulan penuh melaksanakan titah Allah untuk melawan hawa nafsu, tidak makan tidak minum selama 17 jam perharinya, mengincar pahala dari segala arah, memburu Lailatul Qadr di setiap 10 malam terakhirnya, dan saat hari kemenangan itu tiba, 1 Syawal 1433, ada hadiah spesial dari pemerintah Rusia untuk mereka. Bertepatan dengan hari raya Idul Fitri diluncurkannya stasiun Tv Islam pertama berbahasa Rusia "IR Tv" yang disiarkan di Moskow. Stasiun Tv tersebut akan menyiarkan pengetahuan dan ajaran-ajaran Islam dengan 24 jam tayang. Seperti yang sudah diketahui, sudah banyak masyarakat Rusia yang mulai tertarik dengan Islam bahkan mengenal para nabi-nabi Allah, Nuh, Hud, Yusuf, Isa sampai Muhammad SAW. Para pelaksana proyek berharap agar IR Tv dapat menarik perhatian lebih dari 20 juta muslim yang tersebar di seluruh pelosok Rusia, di samping jutaan lainnya dari negara-negara tetangga khususnya eks Negara Uni Soviet. Ide pembuatan stasiun Tv Islam di Rusia tersebut dicetuskan oleh Dmitry Medvedev saat masih menjabat menjadi presiden Rusia dengan tujuan pembelajaran pengetahuan Islam yang sesungguhnya. Dan idenya mendapatkan apresiasi dari kedutaan Negara-negara Arab dan Islam di Moskow.


Wangi Islam kian pekat tercium di seantaro dunia. Bagi diri yang Islam sudah melekat dalam dirinya sejak kecil, ada ruh-ruh baru yang terpanggil untuk lebih bersemangat dalam berislam, tatkala menyaksikan kebangkitannya di tempat-tempat yang dahulu jauh darinya. Memang, Islam adalah rahmat alam semesta. Tak ada lagi waktu untuk berleha-leha, jadilah para tentara Allah yang menyambung estafet dakwah Rasulullah SAW. Pada Islam kita kokoh bergerak, atau jatuh terlempar.

sumber: http://arabic.rt.com/news_all_news/news/592605/
Sabtu, 11 Agustus 2012

So long, Ramadan!


Bismillahirrahmanirrahim
Ingat, saat Ramadan baru tercium dari wanginya saja? Atau baru terlihat dari laku orang-orang shalih yang benar-benar mendambakannya? Atau baru terbaca dari status dan tulisan orang-orang yang mempersiapkan diri menyambutnya? Ya, untuk menyambut kedatangannya, Ramadan.

Masihkah terasa, saat jiwa-jiwa menjadi bersemangat membaca Al-Quran, menyelami seluk beluk surat-Nya, menjumpai kehebatan kalam-Nya, bertakbir atas keagungan-Nya. Allah banyak menganugerahi kita hidayah di Ramadan ini, mengingatkan apa yang dahulu pernah terlupa, mengajarkan apa yang dahulu belum pernah diketahui, Ramadan ini mendewasakan kita kawan, dan semoga untuk selamanya. Masihkah ingat juga, saat otak kita merasa ingin terus diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, bekerja, membaca buku-buku, menulis, ingin rumah, kamar, dapur, selau rapi…. Ya, seolah semangat ini berlipat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Dan masihkah dapat kita rasakan, saat diri kita begitu menantikan panggilan-Nya, untuk segera melangkah ke rumah-Nya, bersujud, merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan-Nya, sambil sesekali bersikeras memaksa diri sendiri untuk menyadari, bahwa kamu, bukan apa-apanya, dan Allah adalah segalanya. Maka atas dasar apakah kecongkakan diri ini terus dijaga? Nastaghfiruka, Yaa Rabb. Memanjangkan sujud, berdo'a sepenuh hati, demi kelancaran dalam belajar, kesuksesan dalam ujian, kemudahan untuk pergi ke tanah suci, kesempatan untuk pulang ke tanah air, dan sebenarnya ada harapan yang begitu berat terselip di sana, saat ingin Ayah dan Ibu terus ada menemani untuk menyaksikan kesuksesan diri nanti, Allahua'lam semoga sukses dunia dan akhirat. 

tak akan pernah terlupa, Ramadan dengan segenap keberkahan di dalamnya, menguatkan ukhuwah yang sudah lama terjalin, dengan ifthar jama'inya, mempertemukan yang dahulu terpisah dengan program-program khususnya, dan mengembalikan apa yang sempat hilang, semangat mengaji, menghafal dan dekat dengan Al-Quran.

Allah, Ramadan-Mu ini terlampau indah….

Tanpa terasa, kini kita sudah di penghujung Ramadan kawan. Namun wanginya semakin pekat, bersamaan dengan tersebarnya kabar tentang malam agung itu. bersemangat kaki-kaki kita melangkah menuju masjid-masjid yang terdekat sampai yang terjauh, mencari yang bacaannya paling panjang, atau yang do'a qunutnya paling indah, sampai yang penting kamar mandinya 'nyaman', terkadang juga 'masjid yang kaya', menjadi sasarannya. Menyiapkan segenap perbekalan, dan yang paling penting, mushaf dan perlengkapan cuci diri.
Semakin kita sadari, malam agung tentu tamunya pun agung. Tamunya, mereka yang betul-betul memburunya, yang mendambakannya dengan penuh harap berjumpa dengannya, Lailatul Qadr. Maka diri kita semakin bersemangat untuk melakukan perbaikan, pasalnya, mudah saja, diridhai Allah, untuk berjumpa dengan Lailatil Qadr.

Ramadan-Mu akan segera berlalu Allah. tinggal menghitung hari…. Ada rasa sedih tergurat di sini, di dalam hati ini. Takut kehilangannya. Kehilangan indah dirinya, barakah dirinya, semangat yang diberikan dirinya, pahala yang ditawarkannya, dan malam cantik nan agung yang ada di dalamnya. Takut kehilangannya, takut predikat menjadi seorang yang bertakwa itu ternyata belum cocok untuk kita, merasa butuh waktu lebih banyak lagi untuk beramal shalih, untuk menjadi yang yang bermanfaat dengan iman, ilmu dan amalnya untuk menjadi orang yang bertakwa. Akankah tetap bersemangat? Pun begitu, waktu tetap akan terus berputar.

Telah kami genggam erat Ramadan-Mu kali ini Allah, rahmatilah kami, dan ampuni kami untuk segala salah dan lupa. Semoga usaha kita memperindah diri selama Ramadan ini, memang untuk bekal minimal 11 bulan ke depannya lagi. Tak hilang senyum ramah kita, semangat mengaji, menghafal dan mentadabburi Al-Quran, tak hilang semangat memakmurkan masjid, tak hilang semangat menjadi pribadi yang rapi, bersih, tak hilang semangat membaca buku-buku bermanfaat, tak hilang semangat berinfaq, tak hilang semangat berbagi, tak hilang semangat untuk terus memperbaiki diri…. Tak hilang, dan jangan pernah hilangkan…. Agar Allah senantiasa menjaga cinta-Nya untuk kita, hingga kelak Allah ridha untuk menjumpakan kita dengan Ramadan-Nya lagi.

Jika lelah beristirahatlah sejenak, dengan banyak beristighfar, memohon ampunan dan bantuan dari Allah, kemudian bertakbir untuk mengembalikan semangat diri.

Saat jauh dengan-Nya saja, Allah masih sudi menemani kita, memberikan keceriaan dalam hidup kita, apalagi saat diri benar-benar sedang dekat dengan Allah ya? Tak butuh apa-apa, kalau sudah memiliki Allah… Masya Allah….

Allah, Ramadan-Mu ini terlampau indah…. untuk kini harus pergi meninggalkan kami.

Maka perhatikanlah! Apa yang terjadi pada diri kita kini? Lihatlah kesuksesan kerja kita di Ramadan tahun ini, dengan menilai perubahan-perubahan apa saja yang sudah terjadi dalam diri kita sepeninggalannya. Allahu yubaarik fiina.

Lepas Ramadan dengan senyuman, bukan penyesalan, berikan apresiasi kepada diri, yang sudah dengan sungguh-sungguh mengindahkan Ramadan-Nya,  so long Ramadan! Sanaltaqy ba'da sanah, insya Allah J

Taqabbalallahu minnaa wa minkum, shiyamanaa wa shiyaamakum, kullu 'aam wa nahnu aqrab ilallah...
Semoga suci di hari yang fitri, dengan ridha-Mu, Allah J