Senin, 12 Mei 2014

End Of OBSESI 4, 4 Mei 2014


Bismillahirrahmanirrahim

WwwwwwwwwwwwwwELCOME HOME, YOU! Alhamdulillah! Kurang faham sebenarnya dengan bahasa yang saya gunakan intinya saya  ingin mengatakan  pada diri saya sendiri, “Selamat datang kembali, wahai diri. Jangan lupa bebenah sebelum tidur-tiduran.” Apa kabarmu setelah kutinggalkan sekian bulan? Saya rindu meluapkan kisah seharian, apalagi mingguan, bulanan? Alhamdulillah ‘ala kulli haal saya punya Bunda dan kakak di rumah untuk bercerita, atau teman sekedar berbagi di kosan=) tapi tetap nyoret-nyoret tembokmu is a must, dear!

May I start my curcol?

Tahukah, tanggal 4 Mei mendadak menjadi hari bersejarah bagiku. Minimal bagiku. Ya, apa sebabnya? Apakah saya pernah bercerita tentang “penjerumusan” saya ke dalam BEM yang secara tiba-tiba? Saya masuk ke dalam divisi bahasa, yang bisa dibilang divisi bahasa merupakan salah satu point utama BEM STIU Al-Hikmah yang memang menggunakan bahasa arab sehari-harinya. Satu dua bulan saya  di BEM, masih meraba-raba. Lagi-lagi karena saya dijerumuskan. Bahkan ketika itu saya saja belum tahu siapa Sekjend BEM. Allah! Wajar, belum ada 2 bulan saya kuliah di Al-Hikmah. Segalanya baru bagi saya.
Karena PKL, ketua divisi bahasa harus tawaqquf, premature memang, tapi in sya Allah kami yang ditinggalkan tetap mengusahakan yang terbaik. Ba-bi-bu. Bergulirlah isu tentang acara terbesar kampus yang diselenggarakan tahunan. Namanya OBSESI (Olimpiade Bahasa Arab dan Seni Islam) acara milik Divisi Bahasa bekerjasama dengan Syiar. Isunya, apakah acara ini perlu diselenggarakan, atau ditiadakan saja, mengingat BPH semua PKL kecuali tersisa dua orang, semua ka.div juga PKL dll. Dari kubu tetua banyak yang memilih untuk ditiadakan saja, namun mereka yang berjiwa muda, entahlah berteriak “LANJUT” dengan begitu semangatnya. Saya yang tiba-tiba diamanahkan oleh ka.div bahasa untuk menggantikannya sementara, di tanya secara menjurus alias pribadi oleh sang ketua BEM, “gimana isma?” yang ditanya melongo sebab belum paham betul duduk isunya. Namun melihat alas an-alasan yang diutarakan oleh si pro dan si kontra saya akhirnya berkata dengan bijak, “OBSESI adalah acara tahunan, kalaulah memang hanya permasalahan dana, kita masih ada waktu 5 bulan dari sekarang untuk sebar proposal. In sya Allah saya yakin kalau kita mau saling bantu dan semangat selalu pasti bisa.” Jawaban saya sudah penuh dengan editan, ya intinya begitu yang saya utarakan. Akhirnya, JENGJEEENG…. OBSESI in sya Allah akan tetap diselenggarakan. Tibalah menentukan struktur panitia. Lagi-lagi kamu bergalau ria, siapa yang harus menjadi ketua OBSESI???? Entahlah semua mata dan hati pada hari itu saya lihat dan saya rasa tertuju pada saya. Wallahi, saya ingin menolak! Tapi kawan saat kau rasa kau memiliki qudrah untuk itu dan tidak kau lihat pada yang lain, maka melangkahkah kemudian shibghah yang lain dengan kebaikan. Bismillah. “Yes, I will in sya Allah” others: “Alhamdulillah….”
5 bulan ternyata tidak benarlah lima bulan. Terpotong ujian dan libur. Kau tahu? Saya tipe orang yang tidak mudah tenang apabila sebuah perkara belum selesai. Boleh jadi di antara mereka sayalah yang paling super duper khawatir tentang kelangsungan acara ini. Berbulan-bulan saya khawatir. Tak saya temukan obatnya, entalah segala keadaan benar-benar membuat saya khawatir. Kau tahu teman, daripada dana yang kau khawatirkan tak terkumpul ada yang lebih berbahaya dari itu; tak bersatunya hati para panitia, dan mereka yang kunjung merasa memiliki mas`uliyah terhadap OBSESI ini. Saya hampir-hampir setress dibuat mereka yang melupakan kodrat sebuah amanah dan diamanahi. Sampai saya menulis dalam catatan saya sendiri,
“Allah, jaga mereka orang-orang yang setia mengemban amanah, orang-orang yang sungguh-sungguh menjalankan amanah, orang yang benar-benar amanah apabila diberikan amanah, kalaulah hanya ada seorang saja, maka itu adalah AKU ya Qawiy!”

Kemudian saya berjuang dengan beberapa panitia yang termasuk ke dalam criteria doa di atas, bayangkan bisa dihitung jari! Hanya 6-7 orang yang mampu menghayati peran mereka. Hanya 6-7 orang yang rela berjuang habis-habisan menghandle tugas mereka yang masih tertidur. Hanya 6-7 orang yang mau berlelah-lelah, bersubuh-subuh, bermalam-malam untuk acara OBSESI ini. Hhh.. yaa Rabbi.
Hampir-hampir rasa khawatirku terhadap OBSESI merusak nafsu makan. Sampai sebuah picture mengutip sebuah untaian yang menyadarkan saya. “Untuk apa mengkhawatiri apa-apa yang masih ghaib? Apakah kau meragukan keahlian tangan Allah sebaik-baik perancang masa depan?” Allah, I LOVE YOU FULL untuk selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-NYA. APAPUN ITU.

Saya kehilangan induk dua kali, sampai pada akhirnya DSM turut turun membantu kami. Alhamdulillah. Sekali saya menangis di hadapan teman-teman panitia ketika syuro. Atas segala keluhan saya terhadap mereka yang sudah tak tertahankan lagi. Saya tidak mengomentari mereka, sebab saya tidak suka menyakiti hati orang lain walaupun sebuah fakta. Namun saya katakan,”Kami di sini telah begini dan begitu, hanya sekian orang saja, rasanya lelah sekali. OBSESI ini milik kita bersama. Tapi amanah itu Allah tanyai secara satu per satu.”

Alhamdulillah, 2 bulanan sebelum tanggal 4 MEI 2014 mereka mulai serius, telepon sana sini mencari dana 48juta yang kita butuhkan. Benar-benar saya lihat indahnya bekerja keras secara bersama-sama. Uang mereka terpakai, waktu mereka tersita, tenaga mereka terkuras, air mata mereka membendung. Ah masya Allah, teman…. Hanya Allah yang bisa membalas segala usaha upaya dan do’a kalian…..
Tibalah hari H alhamdulillah. Dengan penuh puja dan puji syukur saya berterimakasih kepada para asatidzah yang saat itu berkenan meluangkan waktunya untuk hadir, kehadiran mereka menjadi penenang tersendiri untuk saya. Ustadz Sunardi yang mengapresiasi kami dalam khithabahnya berkenan membuka acara dengan basmalah dan potong pita. Dari pagi hingga acara selesai, beliau menemani kami bersama Ustadz Khaldun yang juga berkenan menjadi salah satu bintang tamu acara talkshow kami yang juga dimeriahkan oleh Muhammad Saihul Basyir, wallahi acara talkshow begitu berkenan di hati para peserta terlihat dari banyaknya yang ingin bertanya, dan dari senyuman yang tersungging selepas talkhsow. Jazaakumallahu khairan ustadz khaldun dan basyir untuk ilmu dan kesediannya.

Ada ustadz Falhan yang bersedia menjadi juri khithabah, Ustadz Yusuf dan Ustadz Syarif yang Alhamdulillah bisa menyempatkan diri menjadi juri hadits, Ustadz Yunus dan Ustadz Sami yang begitu bersemangat menjadi juri cerdas cermat, dan tak lupa Ustadzah Amiroh dan Ustadzah Maemunah yang sudi meluangkan waktunya demi menjadi juri hifdzh al-Quran. Bahkan Ustadz Afdhal, Ustadz Rasyid dan Ustadz Fahmi hadir khusus menyemangati kami. Ah, wallahi teman-teman kehadiran para asatidzah di acara OBSESI benar-benar menyenangkan hati saya pribadi. Alhamdulillah.

Karena, atas segala kejahilan kebodohan dan keluguan saya, sempat beberapa kali saya melakukan kesalahan berkenaan dengan undangan untuk para asatidzah. Kalau ingat ini, berasa betul bodohnya. Faghfirly yaa Rabb :’( ‘ala kulli haal, yang bengkok itu pasti Allah luruskan. Dan Allah telah meluruskannya =)

Empat perlombaan yang tersedia, Khithabah, Hifdzh al Hadits, Hifdzh Al-Quran, Musabaqah Tsaqafiyah acara juga dimeriahkan oleh TALKSHOW tentang Al aafaaq Al Mustaqbaliyah lillughah ‘Arabiyah dan Nahwa hayaatin sa’iidatin fi dzhilaal al Quran, ALHAMDULILLAH berjalan dengan begitu lancar, indah dan berkesan….

Namun mengapa sampai saat ini saya masih merasa bersalah dan tidak puas? Karena kekurangan dan 
banyak kesalahan terjadi di luar perlombaan itu sendiri, alias dalamnya acara ini alias kami sebagai panitia alias saya sebagai ketuplak perlu banyak belajar lagi.
Seragam yang kece, MC yang masya Allah bahasa arabnya, sound yang teratur, perlombaan dan talkshow yang berjalan dengan lancar, solusi yang Allah beri dari segala masalah, Alhamdulillah yaa Rabb, Alhamdulillahilladzii bini’matihi tatimmushshaalihaat…..

Salam Ketuplak OBSESI 4 2014 =)

Terimakasih yang pertama dan utama hanya untuk Allah, kemudian kedua orang tua atas dukungan moril dan materil, teman-teman BEM STIU DI Al-Hikmah dan panitia yang sempat kena marah saya, atau saya suruh-suruh terus baik ikhwan maupun akhwat, mohon maaf lahir dan batin yaa :’( kakak DSM, dukungan dari para asatidzah dan teman-teman kampus STIU DI Al-Hikmah 2014.  Fa jazaahumullahu khairan katsiiran. Terimakasih dan mohon maaf dari lubuk hati terdalam. Ikhlaskan segalanya ya….

My asatidzah

--- --- Sent by WhatsApp
Sabtu, 22 Februari 2014

Toreh Hati

Bismillahirrahmanirrahim

Berulangkali aku mencoba mengungkapkan cintaku padamu, Berulangkali pula aku gagal menuliskan kata terindah untukmu, aku hanya ingin kau memahami betapa ada rasa cinta yang tak mampu kutahan sendiri, ada kesyukuran yang terhatur tak terhingga pada Allah atau segala anugerah ini, ada rasa bersalah juga pilu untuk selalu menyusahkanmu, seberapapun buruknya aku namun tetap saja kau anggap aku yang tersayang, tercinta.

Ayah dan Bunda, kian bertambah umurku, kian kau beri cinta setulus tangan mengusap, dada menerima dekap aku jauh kau dekati aku dekat kau pandangi.

Ayah dan Bunda, bahasaku benarlah tak indah namun tak bisa kusimpan sendiri, betapa.. aku mencintai Ayah dan Bunda dengan segenap hati yang bahagia karena memiliki, hati yang sesak mengakhawatirkan Ayah dan Bunda.

Ayah dan Bunda. Hamba mohon yaa Rabb untuk menjaga mereka dengan sebaik-baik penjagaan-Mu.

Ayah dan Bunda, maaf untuk segala khilaf dan kesalahan.

--menanti Ayah pulang, menjelang tidur--

Sabtu, 15 Februari 2014

Kepiluan Waktu Senja


Bismillahirrahmanirrahim

Maghrib di hari sabtu kemarin. Ada kisah yang membuatku tergugu saat shalat berjamaah dengan Ayah. Tentulah tak hendak saya menangis, namun begitu saja air mata menetes perlahan tak lama disambut oleh isakannya. Sebentar saja, hanya beberapa detik kemudian saya kembali menguasai diri. Lepas ucap salam kanan dan kiri, saya langsung berdiri bergegas ke teras luar. Duduk di kursi kayu bersama keheningan maghrib saya tenangkan diri. Terkadang ucapan seseorang indah bagi dirinya tapi boleh jadi pedih bagi pendengarnya. Kira-kira itulah yang terjadi padaku.

Saya  pikirkan cara untuk menghilangkan kesedihan, posisinya di rumah di waktu libur akhir pecan, benar-benar bukan masanya untuk bersedih. Sedemikian saya makan, menyetel tv seadanya mengobrol sekenanya, membantu seperlunya, ternyata bisa juga terbaca oleh ibuku. Ditanyanya ini dan itu, saya tetap bungkam dan mengatakan semua baik-baik saja. Bahkan sempat ibu saya menerka kesedihan terjadi karena kabar yang saya dapatkan tentang “si dia” saya tertawa sedikit sambil berucap, “sebenarnya asal dia baik aku ga masalah, tapi kalau Bunda ga mau, ya nggak. I’m ok Mom, really!” Ibuku sedikit mengancam dengan wajah sangar kalau-kalau saya  tidak mau bercerita padanya, mengingat hampir setiap hal yang terjadi dalam hidup saya, ibu saya tahu itu! Saya lawan rasa malu, untuk menceritakan segalanya, saya pikir saya sedang mencari keridhaan-Nya, maka saya butuh masukan dari kedua orang tua saya tentunya.

Melihat kekhawatiran ibunda tercinta tentu menambah kepiluan malam itu. Subuhnya saya terbangun dengan struktur kelopak mata yang lebih lebar. Ibu saya menegur untuk yang kedua kalinya, “Ga nangis apanyaa itu liat mata kamu” yang tertuduh hanya cengengesan. Alhamdulillah, bunda tidak terlarut dalam kekhawatiran mengingat pagi itu ada acara di Ummul Quro juga ada undangan di Jakarta. Saya pun sama, harus kembali ke Jakarta. Kami sibuk mempersiapkan diri masing-masing.

Saya sudah siap dan hendak berangkat, saat bersalaman dengan Ayah beliau berkata, “Ayah sayang Isma” deg….. tiba-tiba seperti ada dobrakan dari hati ke mataku ada yang ingin terjatuh namun aku tahan kuat-kuat. Ayah masuk angin pagi tadi, jadi saya pijat sebentar, bukan karena saya jago memijat hanya saja kasih sayang dan doa yang terhatur untuk menyembuhkan Ayah, syafaakallah Ayah!

Saat berpamitan pada Bunda pun sama, saya berpamitan di Ummul Quro, beliau berkata, “masih galau yaaa?” saya hanya tertawa.

Kembali ke Jakarta. Harapan saya sekembalinya ke kosan, sudah tak ada lagi kesedihan yang mendalam. Sebenarnya sudah sejak semalam saya menenangkan diri saya, toh saya bukan orang yang baru sehari dua hari mengenal Allah seharusnya saya memang jauh jauh jauh lebih dewasa dalam menyikapi segala hal. Alhamdulillah, malam itu Allah ilhamkan, Allah kuatkan saya untuk menguatkan hati saya.

“manusia hanya mampu berencana, Allah yang pilihkan. Manusia hanya mampu berusaha, Allah yang memutuskan.” Dipilihkan oleh Allah pada setiap sisi kehidupan? Ah, sungguh saya sangat ridha.

Kemudian saya belajar mengikhlaskan. Allah, Irham dha’fana..
Rabu, 12 Februari 2014

Saya dan Mulazamah

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahilladzii bini'matihi tatimmushshaalihaat.....

Agaknya ucapan itulah yang terlafadzkan dengan syahdu menyambut semester baru ini. Allah tentulah tidak melihat hasil, murni yang Allah lihat adalah proses menuju akhiran tersebut. Saya yang dalam kondisi iman serba pas-pasan ini masih Allah beri hadiah yang di luar dugaan saya. Saya bertahmid sekaligus bertanya-tanya? Allah, kok bisa? 'Ala kulli hal Alhamdulillah, perjuangan masih panjang hanya istiqomah dalam kebaikan dan keikhlasan yang Allah minta yang kita paksa.

Saya bukan tipe orang yang bisa terbangun karena alarm, tubuh saya lebih alami bangun secara refleks. Ruginya, kalau saya terbiasa bangun pukul 04.30 maka itu yang terus terjadi seperti hari-hari belakangan ini, sampai saya menyandra jiwa saya, dan memberikan pilihan, "bangun pukul 03.00 atau rugi seharian?!" tentu bangun pukul tiga pagi! Akhirnya saya setting si autopilot pukul 03.00 tidak tanggung-tanggung kali ini saya menggunakan alarm, "semoga bermanfaat!" harap saya.

Malamnya sampai pukul 21.50 saya masih sibuk menghafal tapi segera saya sudahi sebab esok pagi benar-benar saya harus bangun pukul tiga.
Tetapi entah mengapa saya sulit sekali untuk terlelap. satu dua kali saya duduk. Satu dua kali mati dan nyalakan kipas. Masih tidak bisa tidur. Satu dua kali berdiri, bertanya, "Apa yang saya mau?" sesekali mengoleskan minyak angin pada kening agar tetap terasa dingin walau tanpa kipas angin. Masih juga belum terpejam. saya kesal. Padahal saya sudah mewanti-wanti diri untuk tidak memainkan handphone sebelum tidur tapi karena belum juga bisa terlelap akhirnya saya buka hp saya, wa, fb, line, ig semua semua semua sampai saya mengantuk. dan alhamdulillah pukul 12 malam lebih saya tertidur sambil sedikit gugup, meragukan jam tiga esok pagi. fiuh.

sayup-sayup saya mendengar suara gemericik air. ingin tak mempedulikannya tapi sontak saya terbangun saat ingat'pukul 3 pagi' benar saja sudah pukul 04.11 saya agak kesal dengan tetap indah dan perlahan keluar kamar tidak boleh terserang energi negatif buru-buru saya wudhu sikat gigi dan shalat hanya dua rakaat saja, sebab ada hal lain yang harus saya kerjaan pada pukul 3 pagi tadi. saya segera membersihkan diri saya, selepasnya adzan subuh berkumandang saya pun shalat, berdoa dan segera kembali ke kamar. siap-siap dengan pakaian rapi seolah mau hendak pergi ke kampus padahal masih pukul 05.15

saya hampiri sampah yang sudah saya rapikan sejak semalam, kemudian keluar dan meluncur ke sebuah tempat. hanya ditemani oleh satu dua orang yang lalu lalang dan lampu jalan temaram. tiba di tempat, begitu sepi. oh ternyata sudah ada satu orang di sana, kemudian saya dan setelah itu satu orang lagi.

tidak banyak yang kami lakukan di sana, hanya menyetor hafalan di rumah ustadzah. semakin siang semakin banyak yang berdatangan pukul 07.05 saya beranjak dari tempat karena sudah menyelesaikan tugas di sana, mencari makan dan bersiap untuk kuliah umum pukul 8 paginya.

Mulazamah, program tahfidzh kami di semester ini lebih berat dari semester kemarin. mohon doanya agar kami istiqomah.

Sudah sekian kali saya disusul, maka kapan saya mampu menyusul? fastaqim!
Jumat, 13 Desember 2013

Wa Syitaa`

Bismillahirrahmanirrahim

Kawan-kawan masisir di status facebooknya banyak yang bercerita tentang kedahsyatan dingin tahun ini. saya penasaran, sedingin apa? Memang dari dua musim dingin yang saya lewati setiap tahun terasa kian dingin. Tapi tidak pernah saya temui sampai di bawah 8 derajat celcius dan itupun di pagi hari saja. Sulit membayangkan cerita kawan-kawan bahkan gambar yang mereka upload, bersalju.

Musim dingin itu, bagi saya lebih berat daripada musim panas, (kalau di mesir) sebabnya baju yang dibutuhkan jadi lebih banyak, sulit sekali beranjak dari kasur di pagi buta, mandi mencuci piring harus pakai air hangat, yang kadang saya tidak sadar airnya sangat panas dan akhirnya membakar tangan saya. Angin yang berhembus terlalu kuat terkadang melukai kulit punggung tangan atau membuat tampilan jadi tidak karuan tiba-tiba jadwal seolah berubah, pagi-pagi yang biasanya jalanan sudah penuh namun kalau musim dingin jadi terlihat lebih lengang.

Namun orang yang berpikir positif seperti Imam Hasan Al-Bashri punya pendapat sendiri tentang Asy-syita (musim dingin) ini. الشِّتَاءُ رَبِيعُ الْمُؤْمِنِ
Musim dingin terasa seperti musim semi bagi orang beriman., siangnya yang singkat digunakan untuk berpuasa, malamnya yang panjang digunakan untuk qiyaamullail dan bermunajat. Kira-kira begitu ucap sang imam. Subhanallah ya….

Kemudian saya memutar kembali ingatan saya, adakah yang berkesan antara saya dan musim dingin kairo? Ada, kawan…. Di awal musim dingin saya pernah tersasar, seorang diri. Di tempat yang benar-benar baru pertama kali saya sambangi. Semua orang yang saya tanya menjawabnya dengan satu kata "musya'arif" tidak tahu. Sungguh hari itu saya hampir-hampir membenci orang-orang mesir, dan kata musya'arif. Alhamdulillah, akhirnya saya temui orang yang tidak mengatakan "musya'arif" saya merasa senang dan tertolong. Walaupun rute yang beliau kasih salah -_- maka mana yang lebih saya pilih, "musya'arif" atau yang tadi itu? Allah.
Saya ingat bagaimana saya masih bisa menahan tangis padahal takut setengah hidup berada di tempat yang saya tidak kenal dan di antara orang-orang "Musya'arif" itu, tangis saya tertahan oleh angin pembuka musim dingin yang terus menerus berhembus. Saya merasakan kerudung saya berkibar-kibar tidak keren kalau saya menangis, kecuali satu dua yang menetes dengan sembunyi-sembunyi di balik warung kecil samping saya berdiri.

Di akhir-akhir pengharapan saya coba tanya kepada mbak-mbak yang berada di seberang. Dengan bahasa arab dan inggris yang saya mix sedemikian rupa (baru empat 4 atau 5 bulan). Kalau dari tampilannya mbak ini orang terpelajar. Kemudian dia menjelaskan, "aku tahu tempat yang kamu maksud, tapi aku juga gak bawa mobilku(sambil menunjukan kunci mobilnya saja). Kalau aku bawa mobil aku antar kamu" saya terdiam. Bingung. Kemudian tidak lama, dia melanjutkan, "aku mau ambil mobilku dengan taxi kamu ikut saja aku antarkan kamu saya ke tempatmu" tadaaa.. alhamdulillah, sampai juga saya pada gedung putih itu.


Sepanjang perjalanan saya berpikir bagaimana caranya berterimakasih kepada mbak itu. saya tulis pada kertas, "syukran" kemudian "jazaakillahu khairan" kemudian "semoga kita berjumpa lagi" kemudian "maafkan aku sudah merepotkan" kemudian "salam" dan saya urungkan kertas tersebut kembali masuk ke dalam tas. Akhirnya yang keluar dari lisan saya "syukran, jazaakillahu khairan". S-e-l-e-s-a-I alhamdulillah J
Sabtu, 07 Desember 2013

Salam Pembuka

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh, sahabatku, rumah kecilku. Apa kabarnya dirimu? Rasanya sudah lama sekali tidak bermain-main di dalammu, tempatku biasa menumpahkan kisah-kisah lampauku. Yang terlanjur melukai hati atau bahkan dengan indah menggoreskan senyum di wajahku. 'Ala kulli hal, Alhamdulillah J

Duhai, banyak yang sudah terjadi dalam kehidupanku, sahabatku. Namun beberapa kali aku gagal menjumpai akses menujumu. Gagal lagi gagal lagi aku berkisah.

Seperti yang telah lama kau ketahui, aku bukanlah tipe orang yang suka bercerita tentang pengalamanku kecuali mengambil hikmahnya saja untukku tumpahkan di sini, tapi jumpailah aku. Niscaya kau akan kelelahan mendengarkan turun naik nafasku besar kecil berbisik suaraku dahsyat ekspresiku tak mampu kau hentikan kecuali pada 5 waktu tertentu saja.

Sahabatku, rumah kecilku. Rasa-rasanya hanya itu yang ingin ku sampaikan, bahwa sudah banyak yang terjadi di sini berubah dalam kehidupanku. Sayangnya kau tidak bisa menjadi saksi perhari hidup baruku. 

Tapi tahukah berapa kali aku memikirkan akan dirimu? Sebanyak aku bernafas untuk sebuah kehidupan yang baru, sebanyak aku memaksa diriku untuk ikhlas atas apa yang tak kuingini tapi Allah takdirkan, sebanyak kesulitan menderaku, sebanyak kepayahannya diriku menghadapi kehidupan ini, sebanyak senyuman atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepadaku, tanpa tapi.
Ya, sebanyak itu sahabatku! Percayakah? Entah mengapa selalu terlintas di benakku, aku ingin berbagi. Aku ingin orang lain mengambil pelajaran dariku.

Namun sahabat, jangan kau pinta komitmen lebih dariku, sungguhpun ada hal lain yang jauh lebih penting daripada dirimu, yang selayaknya hanya sebagai tempat berbagiku. Kuberi tahu kau, sahabatku… di luar sana akan kau temui orang-orang hebat padahal umurnya sebaya bahkan lebih muda darimu, memacu kecemburuanmu atas ilmunya yang membumbung tinggi. Di luar sana juga kau temui orang yang amat tekun pada sebuah bidang ilmu hingga kehebatannya benar-benar membuatmu tercengang. Di luar sana akan kau jumpai orang-orang sukses yang kehidupannya dicari oleh orang lain…. Ah, Allah..

Aku di sini, sahabat merasa cemburu iri tertuntut atas orang-orang besar itu. doakan aku dalam perbaikan diri ini yang amat sangat jauh dari criteria mahasiswi apalagi pemudi apalagi istri apalagi da'i….. tapi itu semua harus kulakoni dengan sebaik-baiknya, doakan aku. Untuk generasi Rabbani Shalih dan Cendekia keturunan kami kelak :D aamiin yaa Mujiib..


Sampai jumpa lagi, sahabatku.. Fii riayatillah J