Minggu, 12 Juni 2016

Ramadhan Camp Zaid Sahabat Qu`an (3 Hari Bersama Al Kahfi, Mencetak Pribadi Qur`ani)

Bismillahirrahmanirrahim

Melempar ingatan, beberapa minggu sebelum Ramadhan, saat kami sedang bersiap-siap pergi, saya nyeletuk pada Kanda. “Bikin Ramadhan Camp yuk!” hanya sebatas itu, kemudian ditambah perencanaan-perencanaan yang hanya sebatas bayangan, tanpa ditulis, tapi berharap penuh kepada Allah agar bisa terealisasi.

Hari-hari berjalan, saya yang tipenya menagih dan butuh bukti nyata, mulai risau karena belum adanya tanda-tanda yang nyata. “Ayo dong, katanya mau bikin RC?” mulailah ia sibuk membuat desain sebelum desain. Maklum di antara kami belum ada yang bisa bermain di PS, Corel atau sejenisnya. Ia sibuk dengan power pointnya. Saya sendiri mulai mengonsep acara. Kami saling memberi masukan. Begitu juga keluarga, dukungan mereka penuh kami rasakan, semangat kami kian meletup-letup.

Sampailah pada hari di mana Ramadhan Camp Zaid Sahabat Qur`an disebar kekhalayak ramai dunia maya. Terbatas hanya untuk 15 orang. Saat itu sambutan peminat tak seramai saat membuka kelas tahsin dan tahfidzh bulan lalu, namun Alhamdulillah. Target 15 orang tercapai bahkan lebih.

Dalam perjalanannya, satu persatu izin, dan mendaftar. Izin dan mendaftar. Saya yang panikan Alhamdulillah Allah anugerahi pasangan yang kadang sifat “santai”nya menenangkan. “Gak papa, udah Allah tentuin. Kalaupun kurang dari 15 akhawat ya khair in sya Allah.”

Menggunakan rumah dinas ayahanda, Alhamdulillah ternyata yang hadir diluar dugaan! Cukup 11 orang.hehe. awalnya merasa sedikit kecewa, namun ternyata yang 11 itulah yang memang pas untuk keadaan kita. Alhamdulillah. Rencana Allah memang sungguh luar biasa J

Di hari pertama, semangat teman-teman bercampur kerisauan. Akankah selesai satu surat al kahfi dalam tiga hari?

Kami terus memotivasi. Jangankan mereka, saya pribadi saja merasa bersedih kalau mendapati keluhan peserta yang merasa kesulitan. Kami berdoa memohon kemudahan, kelancaran.

Malam dan esok harinya, kami melihat semangat yang begitu menggebu. Rumah ini terasa indah dengan lantunan-lantunan surat al kahfi yang saling beradu. Saya takjub dengan semangat mereka. 

Bahkan ada yang tidak mengambil jatah istirahat pagi atau siangnya agar terus bisa menghafal dan menyetorkan pada musyrifah.
Sedikit, sederhana, tapi begitu membekas di hati saya pribadi.

Hari terakhir kami jaga semangat mereka, sebisa mungkin, saya salut pada teman-teman yang membantu saya dalam RC  Zaid SQ, jazaakunnallahu khairan J begitu serius dan sungguh-sungguh.

Dan puncaknya pada penutupan, Alhamdulillah… dari 11 orang ada yang berhasil menyelesaikan hafalan Al Kahfinya, yang lain menyusul perlahan. Saya tidak kecewa, dan bersyukur dengan hasil ini, sebabnya, saya tahu daripada yang lancar menghafal ternyata lebih banyak peserta yang belum terbiasa dengan menghafalnya. Ada yang dari hari pertama mau pulang saja, tapi terus kami semangati sampai akhirnya ia menjadi peserta dengan kategori terajin.

Ada yang kesulitan sekali tapi tetap tampak tawakkal dan tekun menghafal.
Ah, saya salut. Bersyukur dan banyak belajar dari mereka. Semoga kebaikan saling tertularkan, keberkahan saling terasakan.


Allahummarhamnaa bil qur`an J
Saya dan Kanda tentu harus terus belajar Rabb. Banyak sekali kekurangan dan kesalahan kami, semoga Allah maafkan dan terus membimbing kami. aamiin
Jumat, 23 Januari 2015

--R--

Bismillahirrahmaanirrahiim

Dari petang Kairo, aku mengembangkan senyuman
Warna langit yang menyamai warna bajuku
Terima kasih telah memberikan sejuta rasa dalam satu rangkaian kisah
Terima kasih telah mengajarkan apa yang "fillah"
Bahkan hingga kini, masih dipenuhi dengan kesyukuran.

--r--
Selasa, 16 September 2014

Nasihat Ustadzah Tentang Amanah Ini, Kawan


Bismillahirrahmanirrahim

Apa kabar dunia kampus? Dunia heterogen yang mampu mengombang-ambingkan iman, sekaligus menjadi penguatnya, mampu mengoyak ukhuwah sekaligus pengeratnya yang paling jitu, dunia yang benar-benar membuat kita tertatih kelelahan sekaligus menyunggingkan senyum kesyukuran. Kedua hal yang berlawanan tersebut tentulah dicapai dan disikapi dengan cara yang jauh berbeda. Yang satu lelah dan berhenti, dan yang lainnya lelah namun lillah….

Kami yakin dunia kami tak seheterogen milikmu, kampus kami bisa dibilang kampus yang cukup homogen. Allah beri kita kebahagiaan yang berbeda namun sama, Allah beri kita ujian yang sama namun berbeda.
Alhamdulillah, layaknya kampus-kampus yang ada, kampus kami baru saja melangsungkan pelantikan untuk anggota BEM yang baru. Ya, BEM. Dulu dalam benak saya menjadi salah satu pengurus di dalam BEM adalah sesuatu hal yang keren, cukup membangganggakan. Kau akan lebih tahu informasi-infomarsi dibandingkan kawanmu, kau mengatur mereka sementara mereka kau atur, kau ke sana kemari di kampus sedang mereka cukup diam menanti. Oh, payah sekali pandangan saya ketika itu. Bahkan setelah saya jalani, hari-hari saya dipenuhi kelelahan karena BEM, waktu saya tersita tak tanggung-tanggung. Perjumpaan dengan orang tua di akhir pekan terkikis perlahan-lahan, berkutat dengan program pengembangan, berkutat dengan proposal, berkutat dengan rancangan acara. Apa indahnya kalau begitu?

Kau rasakan seluruh kemajuan kawan-kawan kampus berada pada pundakmu, citra kampus ada di tanganmu, bagaimana bisa tidur siang?

Kalau boleh saya protes, saya akan protes pada kakak yang menjerumuskan saya ke dalam BEM ini. Sampai pada suatu masa, saya mengerti, Allah yang pilihkan kita untuk mengemban amanah ini, amanah tak akan pernah indah, amanah tak akan pernah mudah, beruntunglah bagi ia yang yakin bahwa suatu saat Allah akan meminta pertanggungjawaban atas amanah yang ia emban, lalu ia bersungguh-sungguh menjalaninya.

Dan hari ini saya harus dilantik kembali menjadi anggota BEM? Rasanya saya ingin kabur saja, namun kostan saya hanya berjarak 500 M dari kampus. Rasanya saya ingin menolak saja, namun tidakkah saya dzhalim, apabila alasan saya karena saya tak ingin lagi tersita waktu, lelah berkeringat tak karuan, waktu belajar, menghafal dan istirahat yang berkurang? Bismillah…. Kulangkahkan kaki menuju aula untuk pelantikan.

Siapa yang menyangka, nasihat dari Ustadzah kami dalam sambutannya terasa begitu menohok hati, namun kiranya itulah yang seharusnya ia lakukan, mengingatkan kami tentang hakikat amanah ini. dengan lembut namun tegas ia mulai membuka hati dan kesadaran kami, bahwasanya amanah ini bukanlah ikraman wa takriman(kemuliaan atau posisi yang dibanggakan) justru ianya adalah taklifan (beban) yang Allah simpan dalam pundak kami. Kemudian, bagaimana pula kami bisa berbangga diri? Merasa lebih daripada yang lain?
Kemudian Ustadzah mengarahkan kami agar bekerja sebagaimana sabda Rasulullahi shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Innallaha yuhibbu idza ‘amila ahadukum ‘amalan an yutqinahu”. Ya, sudah selayaknya kami yang kuliah di kampus agama ini berjuang mengamalkan hadits di atas, yaitu bekerja dengan itqaan dengan penuh profesionalitas. Bekerja dengan suka rela dan hati senang. Membekali keilmuan diri agar profesional, sebab inilah bentuk kecintaan Allah pada kita, saat bekerja dengan itqaan.

Kian bertambah poin yang disampaikan, hati saya berdebar lebih menakutkan, amanah ini kian bertambah berat rasanya. Ustadzah mewanti-wanti kami agar senantiasa mengingat kata kunci keberhasilan kinerja kami, yaitu: Al-Amanah. Mari laksanakan tugas dan fungsi kita di manapun berada, dengan penuh amanah. Pekerjaan tanpa amanah, bukan manfaat yang kita beri dan kita dapatkan, namun mafsadah (kerusakan). Na’udzubillah.

Terakhir Ustadzah kembali mengingatkan kami untuk menjadikan amanah ini sebagai proses pendekatan dan penghambaan diri kepada Allah Ta’ala.

Alhamdulillah..

Untuk teman-teman yang sedang mengemban amanah, hanya Allah yang mampu menguatkan pundakmu, hanya Allah jualah yang mampu meringankannya. Sadarilah, kiranya Allah senantiasa bersama kita, meskipun tak pernah kita minta.

Demi tegaknya kalimat Allah.


Senin, 18 Agustus 2014

Dalam Lingkaran Cinta


Bismillahirrahmanirrahim

Sudah hampir empat bulan kita bersama, adik-adik sayang….

Saya  memang bukan seseorang yang membimbing mereka dari awal keberadaan mereka di SMAN 2 Cibinong. Ada kawan-kawan hebat saya yang dengan ikhlas menjadi kakak mentor bagi mereka. Namun saat adik-adik tiba di penghujung kelas tiga, maka sunnatullah, akan ada yang dengan kuat bertahan atau berhenti pergi dan tergantikan. Kemudian, adik-adik sayang termasuk ke dalam dua puluh akhwat yang masih bertahan. Terlimpahkan amanah kepada saya seorang. Bismillah, saya siapkan diri untuk berjalan lagi bersama-sama dengan kawan-kawan hebat setelah hampir tiga tahun saya vakum dari dunia alumni rohis dan mentoring karena kesibukan dan amanah yang lain.

Saya memulai hari-hari liqo bersama adik-adik sayang. Jujur, saya bukan kakak yang romantis, yang biasa memanggil adik-adik dengan sebutan “sayangku” atau apalah. Cuma dalam tulisan ini saya mencoba untuk mengungkapkan betapa…. Mereka amat kusayangi.

Ingat awal-awal perkenalan saya dan adik-adik. Dari dua puluh lebih, hanya tujuh sampai dua belas saja yang menyanggupi untuk hadir dalam halaqah-halaqah yang saya tentukan setiap hari Sabtu. Dari dua belas, terkadang hanya lima yang benar-benar bisa hadir istiqomah. Sebenarnya, saya sedih melihat adik-adik tak menyampaikan izinnya mengapa tidak bisa hadir, lebih memilih menjadi silent reader saat saya membahas sesuatu di grup lingkaran cinta saya dan mereka, lebih memilih diam saat dengan penuh harap saya tanya kondisi mereka, dan banyak lagi.

Namun lagi-lagi, walau saya adalah kakak yang baru mengenal mereka namun rasanya duka mereka, duka saya juga. Bahagia mereka bahagia saya juga.

Semua perasaan ini bermula tentu saat saya niatkan segalanya Lillahi Ta’ala. Menyerahkan segala daya dan upaya pada Allah semata.

Apalah yang membuat anak baru lulus SMA galau berbulan-bulan kalau bukan tentang Perguruan Tinggi. Itupun yang terjadi di dalam lingkaran cinta saya dan mereka. Belum ada kabar apa-apa tentang status mereka apakah diterima atau masih harus berjuang lagi. Sampai akhirnya satu persatu mendapatkan kabar bahagia. Diterima di kampus pujaan masing-masing. Saya bersyukur. Amat bersyukur, terimakasih yaa Rabb, atau senyuman yang Kau ukir di bibir mereka.  Belum berakhir, lebih banyak yang belum diterima.
Saya ikut menanti dengan harap-harap cemas. Entahlah apa pula yang saya cemaskan. Saya hanya khawatir adik-adik bersedih kalau Allah berbeda kehendak dengan mereka. Benar, tak semua jawaban yang Allah beri, sejalan dengan apa yang mereka minta.

Satu persatu japri saya terima. Setiap adik mengungkapkan kesedihannya, ketakutannya, kekhawatirannya. Seakan benar-benar masa depan mereka ditentukan oleh kampus yang kelak dipilihkan Allah untuk mereka.
Da saya mah apa atuh…. Saya hanya bisa mendengarkan, menyemangati dan turut mendoakan. Saya katakan pada mereka, “Baik buruknya takdir seseorang itu bukan ditentukan dari suka atau tidak sukanya apalagi dari nyaman atau tidaknya. Takdir, apabila kau terima hingga ia membawamu ke surga, itulah kebaikannya. Namun apabila kau tak mampu menerimanya, takdir seindah apapun di mata dunia, tak akan mampu menjadi penolongmu di akhirat kelak. Segala apa yang Allah tentukan selalu baik adanya. Sebab Allah maha sempurna tahu kebutuhan hamba-Nya. Coba rasakan itu, kau merancang masa depanmu, saat Allah berkehendak lain, yakinlah bahwa Allah sedang memperbaiki rancanganmu yang rapuh. Husnu dzhann billah…

Entah pada jenis ujian apa dan keberapa, beberapa adik masih belum mendapatkan kampus juga. Kali ini  Saya yang lebih dulu japri satu persatu, lagi-lagi saya hanya bisa sedikit berbagi perasaan dan semangat. Ada juga adik-adik yang memilih untuk tidak saya ganggu sementara, saya terima dengan penuh do’a. semoga Allah menjaga ke-tawakkal-an ia pada-Nya.

Sampai pada suatu hari salah seorang adik mengirim pesan singkat via WA kepada saya, “Kakak doain aku ya kak….” Kira-kira begitu. Entah rasanya berbeda. Seperti ada dorongan yang amat kuat keluar dari kata-kata itu. Pintanya menampar kerjaan saya yang malas-malasan. Pintanya mendobrak hati saya yang tak khusyuk dalam beribadah. Pinta si adik benar-benar menyadarkan saya tentang sesuatu bernama kesungguhan. Mereka meminta doa pada saya, seolah kesuksesan mereka boleh jadi berkat doa dari saya kemudian saya merasa malu teramat dalam kepada Allah.

Saya punya adik-adik yang harus saya semangati, yang harus saya isi, yang harus saya doakan setiap hari, bagaimana Allah mau memperkenankan kalau sayanya saja tidak sungguh-sungguh dalam meningkatkan kualitas diri, tidak khusyu dalam ibadah, tidak sungguh-sungguh dalam mengabdi pada Allah?
Ah, pesan itu benar-benar membuatku malu…. Pesan singkat itu masih membekas hingga sekarang. Tamparannya masih terasa, hati saya masih berdegup mengingatnya, bahkan terkadang membuat saya ketakutan.

Atau pada saat melihat buku mutaba’ah, dalam kolom tahajjud terpampang “tujuh” “lima” “enam” berderet…. Ya Allah, hampir setiap hari mereka tahajjud! Saya malu.

Terimakasih Allah, untuk anugerah yang Engkau berikan pada saya, berupa adik-adik sayang. Kalau mereka sebut saya, saya adalah kakak mentornya, murabbiahnya, sesungguhnya bukan. Justru merekalah yang banyak menegur saya tanpa sadar…. Izinkan kami untuk ikhlas dalam berdakwah ya Allah, kuatkan kami apabila benar, luruskan kami apabilah tersalah.

Adik-adik sayang, dewasa adalah pilihan seperti kalian memilih untuk shalat dhuha pagi ini atau tenggelam dalam kesibukan duniawi. Dewasa adalah pilihan, seperti memilih untuk sibuk memperbaiki diri dan menebar manfaat sekemampuan kita, atau repot dengan aib orang.

Allah, kumpulkan kami dan orang-orang  yang kami cintai di surga-Mu kelak, aamiin. 
Rabu, 23 Juli 2014

Saat Masih dan Terus Mengabdi

Bismillahirrahmanirrahim

Ramadhan 1435. Bukankah terasa lebih melelahkan dari Ramadhan waktu-waktu sebelumnya? Kira-kira begitu yang saya rasakan.

Saya hanya merasakan sibuk, letih, sedikit kesakitan dan selebihnya saya senang-senang layaknya manusia yang lain. Namun berbeda kisahnya dengan kawan kita di Palestina sana bukan? Boleh jadi mereka tidak tidur, sampai mereka Allah jemput dan diistirahatkan di surga. bukan kabar tabu tentang peperangan yang terjadi antara Palestina dan Negara jadi-jadian itu.

Saat saya berbicara air mata, ternyata saudara kita di Palestina begitu tegar tetap berdiri dengan gagah. Saat saya berbicara luka, ah itu sudah biasa. Bahkan mereka berbahagia sebab luka mereka kelak menjadi hujjah yang menghantarkan mereka masuk ke dalam surga.

Namun saat saya bilang iri, cemburu, saya kepayahan bukan main. Ya, apalah saya di antara mereka, para pejuang tangguh yang tak takut akan kematian. Kelak kita harus bertanya pada diri, "Kapan siap mati?"

Sejak dahulu, Alhamdulillah saya telah diajarkan untuk peduli terhadap sesama. Ingat saat ada konflik di ambon kira-kira saya masih SD, Ayah dan Bunda mengajak saya untuk turut berinfaq membantu mereka. Nominal yang saya beri Rp 20.000 ketika itu. sebenarnya itu uang dari Ayah juga, namun Ayah berikan pilihan untukku simpan atau diinfaqkan. Bukan main merasa hebatnya ketika itu saat Bunda bilang bahwa uangku sudah dibawa Ayah untuk diinfaqkan. Alhamdulillah.

Seiiring berjalannya waktu, kini saya sudah benar-benar bukan anak kecil lagi. Jalan dakwah menggiring tubuh saya terurai dalam aliran air yang tak kenal henti. Yang paling akhir saya lakoni baru-baru ini adalah bersama keluarga Alumni Rohis Asy-syifa SMAN 2 Cibinong merancang kegiatan-kegiatan penggalangan dana untuk Palestina. Oh, saya sudah tidak hanya berinfaq lagi namun mengajak orang lain untuk berinfaq juga. Lebih berat tentunya, begitupun pertanggung jawabannya. Tapi apalah saya yang masih sibuk dengan urusan pribadi ketimbang ummat.

Saya tahu betul bagaimana teman-teman saya berjuang menyukseskan acara galang dana yang baru saja diadakan hari ahad kemarin (20/7). Sebenarnya seminggu sebelumnya pun kami sempat turut andil meramaikan aksi solidaritas bersama komunitas ODOJ (One Day One Juz) di bundaran HI. Kemudian dilanjutkan dengan acara dari Rohis SMAN 2 Cibinong, yaitu Ifthar On the Road, kami selaku alumni menambahkan acara galang dana ini.

Kalau kata anak muda zaman sekarang, "Random" nah itulah yang saya rasakan pada hari H. lelah saya seolah terkumpul pada hari itu sebelum aksi. Rasanya saya ingin tiduran saja dan tak ikut sibuk mengurus acara yang tinggal beberapa jam lagi.

Namun Rabb… rasanya malu bukan main…. Adik-adik SMAVO sendiri telah datang sejak pukul 7 pagi untuk mempersiapkan makanan ifthar yang lebih dari 3000 paket itu. alumni sibuk menyusun strategi sedangkan sebagian membantu adik-adik siswa, ada yang sibuk menyulap kardus untuk dijadikan sunduk. Ada yang sibuk menghitung makanan ifthar yang ribuan itu. Ada juga yang sudah Nampak amat kelelahan sampai hanya bisa bersandar di tembok masjid. Allahu Akbar….perjuangan mereka di Ramadhan ini benar-benar tak mampu dibalas kecuali oleh Allah….

Saat waktu turun ke jalan tiba, memang dari kawan kita sendiri pun ada yang tak bersepakat dengan hal ini, menurut mereka hanya buang-buang waktu, uang dan tenaga, menganggu lalin, dst. Saya agak sakit hati sebenarnya, namun saya sudah cukup kebal dengan sindiran-sindiran seperti ini. toh mereka adalah keluarga kami juga hanya berbeda pandangan saja, sedikit. Saya jawab dalam diam, "Silakan lakukan cara yang antum kira lebih layak dari pada cara kami ini untuk mampu membuka mata masyarakat bogor agar dapat peduli terhadap kesakitan saudara muslim kita dan para mujahid di Palestina" silakan, tafadhdhaluu ahlan wa sahlan! Kira-kira begitulah sesungguhnya ucap hati saya dalam mulut yang terkunci.

Tahukah kawan, tidak lama setelah barisan kami tersusun rapi di tepian jalan, hujan turun dengan cukup deras. Seketika ada rasa sedih menyelusup ke dalam dada. Bagaimana dengan aksi hari ini? akankah terhenti? Ah, kawan. Tekad adik-adik SMAVO telah membaja sejak di briefing oleh salah seorang alumni sebelum kami turun ke jalan. Bahwa aksi ini, haruslah khidmat, wajib bagi kami untuk meluruskan niat dan mengikhlaskan segala amal lillah…. Ini bukan aksi sembarangan dan kita bermain-main. Ini untuk saudara kita yang kehilangan keluarganya, yang putus tangan dan kakinya, yang kehabisan darahnya, yang sudah tak punya tempat tinggal lagi. Oh… Rabb…

 Apalagi saat di flyover telah bergabung bersama kami kawan-kawan Ikhwah Gaul Bogor, Solidaritas Peduli Jilbab Bogor, dan teman-teman yang lain, rasanya semangat kian melambung. Aksesoris Palestina dimulai dari hiasan muka, pin, bendera kecil, ikat kepala, poster, kian menyemarakkan orasi yang disampaikan oleh alumni dan pihak KNRP. Deklamasi puisi oleh tiga adik di Rohis menjadi kenangan tersendiri bagi saya pribadi. Terimakasih adik, untuk keberanian kalian! Kita memang harus memiliki cara untuk membuka mata, mata sendiri dan mata orang lain. Sebab kita adalah ummatnya Ia, sang Rasul yang rahmatan lil 'aalamiin..

Terlebih saat kawan-kawan bersemangat menyodorkan kotak infaq tanpa malu, bertakbir menggemuruhkan Bogor, berkirim do'a untuk saudara-saudara di Palestina, membagikan makanan ifthar bagi para pengguna jalan…. Ah, rasanya tak mampu kugambarkan selain dengan "Bismillahi maa syaa Allah."
Sebab acara inipun, Allah menghendaki penguatan ukhuwah di antara kami para alumni, adik-adik di Rohis juga para guru dan sahabat-sahabat pemuda lainnya. Alhamdulillahilladzii bini'matihii tatimmushshaalihaat….

Terhitung Rp 28.136.900 dana terkumpul untuk kami kirimkan melalui KNRP. Semoga mampu membantu rakyat Palestina walau hanya sebagai sumbu untuk menyalakan lampu-lampu mereka di malam hari.\

Sampai kapanpun, kita ini hanyalah seorang pelayan Allah, yang tak henti mengabdi ke atas, pada Allah menyeluruh pada sesama. 


Fii ri'aayatillah…

Ukhtikum Fillah, Isma M Sunman

Dari Bogor Untuk Palestina, Bersama ODOJ dan KNRP


Bismillahirrahmanirrahim

Ada luka yang menggores hati, di Ramadhan ini
Ada air mata yang mengalir sepi, di Ramadhan suci
Ada tangan-tangan yang terangkat menghantar doa yang melambung tinggi
Jauh ke atas, ke haribaan Rabb Al-'Aliyy, berharap Ia mendengar pinta yang merintih,
Pengaduan kita, tentang duka saudara di Palestina

#BogorForPalestine

Alhamdulillah.. Ahad, 13 Juli 2014 Alumni Rohis Asy-Syifa SMAN 2 Cibinong berhasil memberangkatkan 2 rombongan pemuda dan pemudi Bogor ke Jakarta guna ikut serta dalam Aksi Solidaritas Untuk Rakyat Palestina, dari komunitas One Day One Juz yang bekerjasama dengan KNRP (Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina). 2 bis, dalam waktu yang amat singkat, hanya doa dan persiapan terbaik kami kerahkan, sepenuhnya bertawakkal pada Allah, untuk menggerakkan hati para pemuda Bogor peduli terhadap Palestina, Alhamdulillah….  

Berangkat dari Masjid Baitul Faizin, Pemda Cibinong pukul 11.25 tiba di Jakarta pukul 12.40. Setelah menunaikan shalat, kami langsung bergabung dengan yang lain di Bundaran HI.
Alhamdulillah, kami berbaris dengan tertib, shaf kami begitu rapi. Dengan tetap memperhatikan betul batasan laki-laki dan perempuan, kami berjalan dengan penuh semangat ke pusat acara. Tak hanya langkah kami yang terdengar namun seruan dalam hati kami. "Palestina.. Palestina.." seolah tiada henti hati kami menyebut namanya. Semangat dari dalam hati seakan membuat jiwa ini terbang berbagi kepahitan dengan saudara di Palestina.

Si kecil saudara kami, yang tak kunjung paham mengapa ayahnya tersenyum namun terpejam tak mau bergerak memeluknya.
Si kecil saudara kami, yang hanya memandang langit, seolah bertanya pada Allah, "Rabbi, ada apa ini?"
Si kecil saudara kami, yang kehausan mencari air, yang kepayahan mencari ibunda yang telah pergi.
Saudara kami, menghantarkan Ayahnya berangkat ke masjid di subuh hari, kemudian pulang dengan kasturi mewangi
Saudara kami, yang tak bisa kami jumpai sebab sudah tak tinggal di bumi lagi.
Saudara kami, yang mencari anggota keluarganya sampai ke dalam reruntuhan bangun yang paling dasar sekali. Tak dapat kubayangkan dengan apa mereka begitu tegar mencari keluarga yang masih hidup namun hilang entah ke mana harus dicari

Saudara kami, yang sudah tak bercengkrama dengan mesra bersama keluarga, melainkan berbahagia di surga abadi.
Saudara kami, yang air matanya Allah seka, darahnya Allah hapus, tubuh yang tercerai berainya Allah yang persatukan,
Saudara kami, yang telah menemukan hakikat kehidupan abadi….

Ya, kemarin kami menyatukan hati mengirim do'a kepada Allah agar kiranya Ia menguatkan langkah para Mujahidin, melaknat para Kaafirin. Kami yakin dalam tangis pilu, sesungguhnya rakyat palestina tengah berbahagia berpesta syahid. Bagaimana mereka bersedih, sebab setelah kesakitan yang mereka hadapi, mereka akan segera dijemput oleh bidadari kemudian Allah mereka jumpai.
Campur aduk perasaan kami yang berdiri di sisi bundaran HI. Kami sedih, namun kami iri. Kami bangga namun kami malu.

Setidaknya dari aksi solidaritas kemarin, kami kian menyadari, apalah kami di hadapan Allah. namun berjalan di bumi dengan congkak. Kami kian menyadari, makna kehidupan, setiap hari surga kami minta, setiap hari juga kami lupa arti berkorban dengan harta dan jiwa. Kami kian menyadari arti menjaga dan dijaga. Betapa saudara kami menjaga kalam suci-Nya, mukjizat teragung-Nya, Al-Qur`an Al-Kariim… sehingga Allah pun ridha menjadi Waliy bagi mereka. Kemudian, bagaimana dengan kami? Bilakah Allah sudi menjadi Waliy bagi kami, sedang mengaji saja kami merasa berat, apalagi menghafalnya?

Rasanya malu…. Namun kini kami telah belajar…. Bagaimana Pejuang Palestina menjadi tentara dunia dan akhirat dengan Al-Qur`an di hati. Bagaimana Pejuang Palestina menjadi hero bagi kaum wanita dan anak-anak, dengan tutur kata yang baik dan uluran tangan penuh kasih. Bagaimana Pejuang Palestina menjadi yang amat ditakuti oleh musuh, dengan para malaikat yang begitu gemar membersamai.

Uang saku telah kami infakkan, semoga kelak menjadi saksi perjuangan
Doa telah kami kirimkan siang dan malam semoga ada yang Allah perkenankan
Dan langkah yaa Rabbanaa, telah menjadi bukti kepedulian, semoga Engkau sampaikan agar menjadi pelipur bagi mereka yang tengah berjuang dengan panji Al-Islam.

Menjelang pukul empat sore kami bersiap pulang. Banyak hal yang kami dapatkan, banyak hal yang membuat kami tersadar, banyak hal yang menuntut kami untuk lebih giat belajar.
Semua adalah tentang Engkau Allah, Islam, Ukhuwah, Perjuangan, Pengorbanan, dan Keikhlasan.

Allahummasyhad, yaa Rabb!

terimakasih kepada yang telah berjuang bersama untuk menyukseskan acara ini, keluarga alumni Rohis Asy-syifa SMAN 2 Cibinong. Alhamdulillah....

Senin, 19 Mei 2014

Jum'at dan Sabtu Itu


Bismillahirrahmanirrahim
Aku manusia, yang berjalan layaknya manusia berjalan
Aku manusia, yang berfikir layaknya manusia berfikir
Aku manusia, yang berperasaan layaknya manusia berperasaan
Tak ada salah manusia lain, aku yang salah,
Bahkan aku cinta untuk kembali
Ya, aku pergi untuk kembali
Taqabbal minni, yaa Rabb.


Tak perlulah kita mengeluh pada manusia, saat kita sadar ada Allah, yang meminta kita untuk menceritakan segala perkara hanya pada-Nya, Allah punya segala jalan keluar. alhamdulillah.